Skip to Content

Tertangkap Kamera!

Lihatlah apa yang kami temukan baru-baru ini di dalam hutan Harapan Rainforest! Musang Malay (Malay weasel) ini rupanya terpergok tengah melintas di depan jebakan kamera (camera trap) yang kami pasang di bagian barat laut hutan. Jenis ini merupakan yang pertama kali kami lihat di hutan Harapan Rainforest, jadi dalam daftar satwa Harapan ini merupakan satwa baru. Sayangnya hewan ini masih malu-malu, tapi yakinlah dia akan terbiasa dengan jepretan lampu kilat kamera dan kita bisa lihat segera wajahnya yang sesungguhnya.

Bangunan Persemaian Baru di Harapan Rainforest

Salah satu perkembangan yang paling mencolok akhir-akhir ini di kamp Harapan Rainforest adalah bangunan persemaian. baru. Deretan tiang besi kokoh berjajar rapi dibalut jaring persemaian menutupi area hampir seluas  lapangan bola.  Bangunan yang terlihat rapi dan teratur ini dilengkapi dengan jaringan pipa air ke seluruh penjuru bangunan sehingga sanggup menyirami semua bibit tanaman di dalamnya. Adapun bangunan persemaian baru ini sanggup menampung sekitar setengah juta bibit tanaman dalam polybag.

Hei, Lihat Apa Yang Kutemukan!

Tiga staf dari tim Restorasi Hutan Harapan Rainforest bersama dengan lima staf dari Dinas Kehutanan Sarolangun pada akhir Februari lalu bersama-sama menuju perbatasan barat dengan desa Taman Bandung untuk mengadakan survei perbatasan. Mereka masih bisa menemukan tutupan hutan yang bagus dan alami dengan kerapatan pohon yang terjaga serta kanopi hutan yang masih hijau rapat. Namun itu bukanlah temuan terbaik mereka! Pada sore hari, mereka menjumpai banyak jejak dan onggokan kotoran besar-besar berserak di tanah, itulah kotoran dan jejak gajah Sumatra.

Mencari Bibit, Mengumpulkan Harapan

Pasokan bibit yang stabil adalah elemen vital untuk proyek pemulihan hutan, agar selalu ada persediaan bibit untuk ditanam. Baru-baru ini, kami bertiga dari tim pembibitan masuk jauh ke dalam hutan Harapan Rainforest untuk mengumpulkan biji-bijian di jalur trek hutan dekat kamp Harapan Rainforest. Sambil berjalan pelan menyusuri trek hutan, pandangan kami tak pernah lepas mengamati lantai hutan dan serasah dedaunan yang berserakan untuk mencari berbagai biji dan bibit  tanaman yang bagus. Mencari biji-bijian dan bibit itu gampang-gampang susah dan ada seninya tersendiri karena setiap pohon punya buah berbeda dan  biji berbeda.

Beginilah Komitmen Kami Memulihkan Hutan Harapan

Kami tahu bahwa hewan-hewan dan burung di Harapan Rainforest adalah elemen penting yang menyebarkan biji di dalam hutan. Burung rangkong bisa terbang bermil-mil jauhnya di atas kanopi hutan membawa biji-bijian buah hutan yang dimakan. Karena itu kami ingin mengetahui hewan dan burung mana saja yang memakan biji-bijian tertentu. Penelitian ini akan membantu Harapan Rainforest dalam pemulihan hutan. Jika kami menanam jenis pohon yang disukai oleh hewan-hewan tersebut, maka kehidupan alami lain akan tertarik datang ke area penanaman membawa biji-bijian bersama mereka.

Kelompok Pencinta Alam Bertahun Baru di Harapan

Lima belas anggota Generasi Hijau, sebuah kelompok anak muda pecinta alam dari berbagai sekolah menengah atas di Jambi, baru-baru ini merayakan Tahun Baru di Harapan Rainforest. Jauh berbeda dengan kehidupan normal mereka tinggal di kota yang berpenduduk setengah juta jiwa, kali ini mereka berkemah di tengah hutan. Mereka ingin mengalami secara langsung kehidupan alam hutan lebih dekat dan mempelajari manfaat penting hutan dan melihat bagaimana upaya pemulihan hutan yang tengah berlangsung di Harapan Rainforest. Selama 5 hari kegiatan mereka, mereka belajar mempersiapkan area berkemah sendiri dan merancang area kemah baru berdampingan dengan danau yang dikelilingi hutan alami.

Saat-saat Ceria Bagi Anak-anak Bathin Sembilan

Tiga puluh lima anak-anak sekolah jarak jauh Harapan Rainforest menikmati hari-hari menyenangkan berwisata ke ibukota propinsi Jambi-kendati perjalanannya dimulai pukul 5 pagi dan harus menaklukkan jalan berlumpur. Begitu tiba di Jambi-yang memakan waktu 3 jam lebih-mereka pertama-tama mengunjungi sebuah sekolah untuk merasakan suasana belajar di kota besar di tengah hiruk pikuk lalu lintas dan ramai manusia, dibanding dengan kesunyian suasana hutan. Kemudian mereka diajak mengunjungi museum ibukota propinsi untuk mempelajari lebih jauh soal propinsi kebanggaan mereka, yang merupakan salah satu propinsi dengan wilayah yang tak terlalu luas di Indonesia.

Babak Hidup Baru Bagi Anak-anak Bathin Sembilan

Tak lama setelah tim dokter tiba, sekelompok bocah Bathin Sembilan langsung terdiam. Menurut pengakuan beberapa dari mereka, hari itu bisa jadi bukan hari yang mereka nanti-nanti, karena mereka akan disunat. Sunat bagi bocah laki-laki adalah babak baru dalam hidup. Kendati demikian, hal tersebut bisa membuat mereka cemas dan ingin tahu. Dan itu benar nyatanya karena saat sunatan massal tanggal 18 Desember 2010 di Simpang Macan dan Unit 35 Harapan Rainforest, beberapa anak dengan suka rela mengundurkan diri dari kegiatan. Total hanya 10 anak yang disunat.

Terimakasih David!

Suasana hati malam tanggal 14 Desember campur aduk saat menyaksikan perpisahan David Lee, Kepala Departemen Riset dan Konservasi. Perasaan berbaur dengan kebanggaan akan kerja hebatnya selama 3 tahun di Harapan Rainforest. Dia mengakui saat tahun pertama merupakan tahun penuh tantangan dimana dia mesti mempersiapkan sistem riset dan monitoring dari awal sekali. Menghadapi tantangan sedemikian, dia tetap berkomitmen pada tugas bekerja bahu membahu dengan staf riset dan monitoring serta didukung oleh departemen lain di Harapan Rainforest. Lambat laun, sistem kerja kemudian terbentuk dan semangat bertumbuh melihat segala hal berjalan sesuai rencana: sistem, metode dan sumber daya manusia. Dia bangga melihat perkembangan sejauh ini dalam artian kontribusi riset dan monitoring pada restorasi dan konservasi hutan.

Meningkatkan Kesadartahuan Publik akan Pentingnya Burung

Itulah salah satu rekomendasi dari Seminar Ornitologi yang saya hadiri minggu lalu di Bogor. Seminar ini dihadiri oleh 65 peserta dan diadakan oleh Serikat Ornitologi Indonesia (IdOU) bekerjasama dengan LIPI. Seminar ini merupakan peluang bagus bagi kita untuk mempelajari kegiatan riset lain serta melihat sampai sejauh mana perkembangan ornitologi di Indonesia. Indonesia memiliki 1598 spesies burung, berarti keempat terbanyak di dunia. Sedangkan untuk spesies burung endemik, Indonesia boleh berbangga bahwa keragaman spesies burung endemik Indonesia terbanyak nomor satu di dunia.