Skip to Content

Boost for indigenous people and rare wildlife of Harapan Rainforest

  • File yang diinginkan /tmp/filecSawim tidak bisa diunggah karena direktori tujuan sites/default/files/languages/id_e688f0500c793756c5cfae34ddfbf5d4.js belum dikonfigurasi dengan benar.
  • File yang diinginkan /tmp/file8Ckyg8 tidak bisa diunggah karena direktori tujuan sites/default/files/languages/id_e688f0500c793756c5cfae34ddfbf5d4.js belum dikonfigurasi dengan benar.
submitted on: 
18/03/2010 (All day)

Tadi malam, Chief Executive RSPB Graham Wynne dan Kepala Program Global RSPB Dieter Hoffmann berada di Berlin untuk menyambut sumbangan dana dari pemerintah Jerman serta dukungan dari NABU, mitra Birdlife Jerman, untuk proyek pelopor Harapan Rainforest Harapan di Sumatera. Mereka bergabung dengan perwakilan dari Burung Indonesia dan Yayasan KEHI, badan pelaksana Harapan Rainforest.
Kementerian Lingkungan Hidup Jerman (BMU) menyumbang € 7.000.000 melalui Bank Pembangunan KfW, untuk restorasi habitat, melestarikan hutan yang kaya margasatwa, dan mendukung masyarakat setempat.
"Sebagian besar ongkos penanaman pohon, pembangunan infrastruktur, pengelolaan, perlindungan dan inisiatif pembangunan masyarakat akan dibiayai selama empat tahun ke depan melalui Bank Pembangunan KfW ", kata Bpk Uwe Ohls, Senior Vice President Asia, KfW.


Dieter Hoffmann berkata: "Kami sangat gembira menerima hibah dari Kementerian Lingkungan Hidup Jerman serta menyambut NABU dan KfW sebagai mitra dalam inisiatif pelopor ini. Komitmen mereka akan sangat signifikan, memberi Harapan Rainforest kesempatan untuk mengkonsolidasikan bekerja baik sejauh ini, dan meningkatkan kegiatan penanaman pohon dan pengembangan masyarakat lokal untuk menyediakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat dan satwa liar di masa depan.

Indonesia memiliki sekitar sepuluh persen (90 juta hektar) dari sisa hutan hujan tropis di dunia. Dua pertiga dari hutan tersebut diklasifikasikan sebagai hutan produksi. Berdasarkan skenario bisnis seperti biasa (business as usual), pemerintah Indonesia memperkirakan bahwa sekitar 14 jutaan hektar hutan bisa hilang atau rusak berat dalam 20 tahun ke depan, yang akan menghasilkan emisi sebesar 2,8 miliar tonne karbon dioksida yang berbahaya ke atmosfir. Harapan Rainforest diadakan di bawah ijin kehutanan baru, dikeluarkan pada tahun 2004, yang mengharuskan pemegang konsesi untuk melestarikan dan memulihkan ekosistem hutan selama100 tahun. Harapan Rainforest adalah hutan pertama yang dikelola di bawah perjanjian ini di Indonesia. Jika diterapkan secara lebih luas, jenis pengelolaan hutan ini dapat mengembalikan harapan bagi masyarakat dan keanekaragaman hayati yang bergantung pada hutan di tempat lain di Indonesia, dan mengurangi emisi karbon secara signifikan.

Mairi Dupar - RSPB