Skip to Content

Pemberdayaan Masyarakat

Masyarakat lokal
Secara tradisional, penduduk asli daerah Harapan  Rainforest mengumpulkan produk hutan seperti rotan, damar, dan madu untuk digunakan sendiri serta diperdagangkan. Mereka memancing di sungai-sungai kecil  di dalam hutan dan mengikuti pola perladangan berpindah yang tidak berdampak negatif pada hutan apabila tingkat kepadatan penduduk rendah. Lahan hutan dibakar dengan luas yang kecil, tanah digarap untuk sementara waktu sebelum masyarakat pindah ke tempat lain, meninggalkan vegetasi di lahan tumbuh kembali.
 
Tekanan tak tertahankan
Namun, dalam 20 tahun terakhir, tekanan pada komunitas ini telah menjadi tak tertahankan. Hilangnya hutan dan perluasan hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit telah merampas basis sumber daya mereka. Hanya sedikit masyarakat tradisional di Sumatra Tengah yang masih dapat mengikuti jalan hidup asli mereka.
 
Mencegah pengungsian masyarakat di Harapan Rainforest

Sekitar delapan kelompok masyarakat adat tradisional tinggal di Harapan Rainforest. Mereka mengakui sebagai sebagian dari kelompok etnis yang disebut Bathin Sembilan. Jika Burung Indonesia, RSPB dan BirdLife International tidak campur tangan agar Harapan Rainforest ditujukan
untuk restorasi ekosistem, ada kemungkinan besar kawasan ini telah dikonversi menjadi hutan tanaman industri atau lahan perkebunan, dan keluarga Bathin Sembilan terpaksa  mengungsi.
Masyarakat yang bergantung pada sumberdaya hutan sering mengalami kesulitan untuk memperoleh manfaat dari pembangunan perkebunan. Kewajiban untuk mengambil manfaat dari peluang pendapatan-pendapatan musiman di hutan - musim berbuah, misalnya - berarti bahwa seringkali sulit bagi mereka untuk mengambil pekerjaan yang tetap, dan dalam beberapa kasus mereka tidak bisa dengan keadaan pekerjaan permanen. Komunitas ini juga mungkin kurang berpendidikan dibanding dengan orang luar, yang merupakan syarat penerimaan staf sebagian besar pekerjaan yang ada. Harapan Rainforest memberikan harapan bahwa orang Bathin Sembilan dapat mempertahankan aspek gaya hidup berbasis hutan mereka. Tantangannya adalah untuk memberi kesempatan untuk mempertahankan kesejahteraan mereka dan mengembangkan peluang ekonomi – sambil mendukung tujuan konservasi satwa liar.  Harapan akan mencari kemungkinan menawarkan kerja jangka panjang di stasiun penelitian dan dikegiatan ekowisata, serta dalam pengelolaan hutan sehari-hari.

 
Bekerjasama untuk menghentikan perusakan hutan
Ada ancaman yang berkelanjutan untuk program konservasi Harapan Rainforest, apalagi mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat adat Bathin Sembilan.

Beberapa ancaman terbesar adalah penebangan dan pembakaran hutan oleh migran untuk tujuan ekonomis. Harapan Rainforest berada di dataran rendah Sumatera dengan akses mudah melalui jalan darat, yang berarti Harapan Rainforest sangat rentan terhadap penyalahgunaan tersebut.

Masyarakat Bathin Sembilan sudah memiliki peraturan komunitas untuk mendukung perlindungan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan, dan mereka berjuang untuk bertahan berhadapan dengan tekanan eksternal. Itulah sebabnya staf Harapan Rainforest sedang bekerja keras untuk mengembangkan kemitraan dengan masyarakat Bathin Sembilan, untuk bergabung bersama dan melindungi hutan.

Pak Russman, seorang tokoh adat lokal yang sekarang bekerja untuk tim patroli Harapan Rainforest, mengatakan kepada kami: “Sebagai orang patroli hutan, saya membantu melindungi hutan dari kerusakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kami masyarakat adat akan
sangat sedih jika orang luar adalah untuk menghancurkan hutan kita”.